Etika Bisnis & Akuntansi

Etika Bisnis dan Akuntansi

Bisnis indentik dengan mencari keuntungan. Namun menjalankan suatu bisnis tidak berarti mencari keuntungan semata dengan maksimum, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain sebagai konsumen. Dalam bisnis modern, kemampuan perusahaan mempertahankan etika merupakan prasyarat untuk ikut bersaing dalam pasar. Perusahaan-perusahaan yang memiliki etika bisnis lah yang mendapat kesetiaan pelanggan, sehingga eksistensi perusahaan dapat dipertahankan.

Baca juga: Materi Lengkap Pengantar Akuntansi 1
Baca juga: Perbedaan Bea dan Cukai

Sebaliknya perusahaan yang tidak mampu mempertahankan etika akan ditinggalkan pelanggannya. Etika merupakan prinsip moral yang menjadi pedoman dalam berprilaku. Ukuran yang mudah digunakan untuk menilai beretika atau tidaknya seseorang adalah, bila tindakan yang dilakukannya tidak merugikan atau menyusahkan orang lain, merupakan indikasi bahwa seseorang tersebut memiliki etika. Etika tidak seluruhnya dapat dilihat, seperti kejujuran seseorang dalam melaksanakan profesi atau pekerjaannya. Oleh karena itu setiap orang diharapkan untuk menjunjung tinggi etika.

Dalam profesi akuntansi etika juga menjadi tonggak kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntansi. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan Kode Etik Akuntan yang menjadi pedoman bagi setiap akuntan anggota IAI dalam menjalankan profesinya sebagai akuntan. Salah satu prinsip etik yang dikeluarkan oleh IAI adalah sikap independensi, yang berarti bahwa akuntan dimana pun profesinya harus menjalankan sikap yang tidak terpengaruh oleh pihak manapun dalam menjalankan tugasnya. Bila seorang akuntan tidak independen, maka ada pihak yang berkepentingan dengan hasil kerja akuntan tersebut akan dirugikan, karena hasil kerja akuntan bukan hanya dikonsumsi oleh manajemen perusahaan, tetapi juga oleh pemegang saham, calon pemegang saham, kreditur dan calon kreditur. Jika ini terjadi, maka masyarakat tidak akan percaya pada profesi akuntan. Khusus akuntan publik disamping harus mematuhi kode etik akuntan yang dikeluarkan oleh IAI juga harus mematui etika profesi yang dikeluarkan oleh IAPI.

Prinsip Etika

Warren (2005) mengemukan tiga prinsip etika yang dapat dijadikan pedoman dalam berperilaku etis, yaitu:

  1. Hindari pelanggaran etika yang kecil-kecil. Pelanggaran etika yang kecil-kecil tampaknya tidak berbahaya, namun hal itu dapat mendorong kita pada kondisi yang berbahaya pada suatu waktu karena kemungkinan akan melakukan pelanggaran etika yang lebih besar.
  2. Pusat perhatian pada reputasi jangka panjang. Dilema etika umumnya terjadi jangka pendek, disaat kita dihadapkan pada kondisi,dimana jika kita tidak melakukannya kita “terancam”. Misalnya kehilangan jabatan ,dikucilkan dan sebagainya. Akan tetapi bila kita ikut dalam kondisi ini,berarti kita mengorbankan reputasi jangka panjang. Oleh karena itu,bila menghadapi tekanan etika, alihkan perhatian pada reputasi jangka panjang, reputasi jangka panjang jauh lebih berharga dari mengorbankan etika sekarang.
  3. Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bagi diri anda bila berpegang pada perilaku etis. Dalam organisasi yang etikanya lemah, manajer yang tidak mampu mendukung manajemen yang bertindak tidak etis, maka manajer tersebut akan menghadapi berbagai dilema,antara lain kontiniutas karir, kehilangan pekerjaan dan lainnya. Karena itu, bersiaplah menghadapi kondisi demikian. Jika anda siap, maka tekanan tersebut akan dapat diatasi, dan dikemudian hari anda menjadi pemenang.

Baca juga: Materi Lengkap Pengantar Akuntansi 1
Baca juga: Mencari data Peredaran Saham di Yahoo Finance

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X