Konsep Pengukuran dan Pengakuan Akuntansi Syariah

Konsep Pengukuran dan Pengakuan Akuntansi Syariah

Pengakuan akuntansi mengacu kepada pencatatan unsur-unsur dasar laporan keuangan. Konsep pengakuan akuntansi mendefinisikan prinsip-prinsip dasar yang menentukan penentuan waktu pendapatan, biaya, pengakuan untung dan rugi di dalam laporan keuangan bank, dan selanjutnya prinsip-prinsip dasar yang menentukan penentuan waktu pengakuan asset dan kewajiban. Konsep pengakuan akuntansi juga menentukan penentuan waktu pengakuan rugi dan laba yang berasal dari investasi terbatas di dalam laporan perubahan investasi terbatas.

Pengukuran akuntansi mengacu kepada penentuan jumlah pada titik mana asset, kewajiban dan selanjutnya modal dari para pemilik rekening investasi terbatas dan sejenisnya serta modal pemilik diakui di dalam laporan posisi keuangan bank. Pengakuan akuntansi ini juga mengacu kepada jumlah dimana investasi terbatas, dan sebaliknya modal para pemilik rekening investasi terbatas dan sejenisnya diakui di dalam laporan perubahan investasi terbatas. Konsep pengukuran akuntansi mendefinisikan prinsip-prinsip yang luas untuk menentukan jumlah dimana unsur-unsur tersebut diakui. pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah

A. Pengakuan Akuntansi

  1. Pengakuan Pendapatan. Prinsip dasar untuk pengakuan pendapatan adalah bahwa pendapatan harus diakui ketika diperoleh. Perolehan pendapatan terjadi apabila syarat-syarat yang berikut ini terpenuhi:
    1. Bank harus sudah mendapatkan hak untuk menerima pendapatan tersebut. Ini berarti bahwa proses perolehan harus sudah selesai dan benar-benar selesai. Titik dimana proses perolehan selesai bisa berbeda untuk berbagai jenis pendapatan. Misalnya, proses perolehan untuk pendapatan dari jasa, selesai ketika bank menyerahkan jasa; proses perolehan untuk pendapatan dari penjualan barang selesai ketika pengiriman barang tersebut; dan proses perolehan untuk pendapatan dari membolehkan pihak lain menggunakan asset bank (misalnya menyewakan real estate) selesai ketika berjalannya waktu.
    2. Harus ada kewajiban di pihak lain untuk mengirim sejumlah tertentu atau yang bisa ditentukan kepada bank. pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah
    3. Jika belum tertagih, jumlah pendapatan harus diketahui dan harus bisa ditagih dengan tingkat kepastian yang cukup.  pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah
  2. Pengakuan Biaya. Prinsip dasar bagi pengakuan biaya adalah realisasi atau perolehan baik karena biaya tersebut berhubungan secara langsung dengan pendapatan yang telah diperoleh dan diakui maupun karena berhubungan dengan jangka waktu yang dicakup oleh laporan laba/rugi. Pengakuan biaya ini ditegakkan di atas konsep bahwa Islam menetapkan tanggung jawab untuk biaya kepada penerima manfaat biaya tersebut.
    Biaya-biaya yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pendapatan tetapi mempunyai hubungan langsung dengan periode dimana pendapatan tersebut diakui masuk ke dalam kategori:

    1. Biaya-biaya yang mencerminkan cost yang memberikan manfaat pada periode sekarang tetapi tidak diharapkan untuk memberikan manfaat yang bisa diukur di masa yang akan datang. Contoh-contohnya termasuk kompensasi dan bonus dan biaya-biaya administratif lainnya yang sulit untuk mengalokasikannya secara langsung kepada jasa-jasa tertentu yang dilakukan untuk orang lain oleh bank atau asset tertentu yang dibeli oleh bank. Oleh karena itu, biaya-biaya tersebut harus diakui pada saat terjadinya. pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah
    2. Biaya-biaya yang mencerminkan cost yang dialami oleh bank yang diharapkan memberikan manfaat selama beberapa periode. Biaya tersebut harus dialokasikan secara rasional dan sistematis pada periode yang diharapkan menerima manfaat tersebut. Suatu contoh dari biaya-biaya tersebut adalah depresiasi asset tetap yang mencerminkan suatu alokasi cost dari asset tetap kepada periode-periode yang mendapat manfaat dari penggunaan asset tersebut.  pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah
  3. Pengakuan Laba dan Rugi. Prinsip dasar dari pengakuan laba dan rugi adalah pada saat realisasi sebagai akibat dari:  pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah
    1. Selesainya transfer resiprokal atau non-resiprokal yang berasal dari keuntungan atau kerugian. Contoh dari transfer resiprokal adalah berakhirnya penjualan asset tetap sebagai suatu dasar pengakuan keuntungan (kerugian). Suatu contoh dari transfer non-resiprokal adalah terjadinya suatu kejadian seperti bencana alam yang menimbulkan krugian.
    2. Tersedianya alat bukti yang kompeten dan memadai yang menunjukkan apresiasi atau depresiasi nilai asset atau kewajiban yang telah dicatat dan bisa diukur, sebagai akibat dari perubahan pada permintaan dan penawaran. Keuntungan dan kerugian tersebut merupakan keuntungan dan kerugian yang belum direalisir akibat revaluasi asset dan kewajiban, apabila hal itu dapat diterapkan.
  4. Pengakuan keuntungan dan kerugian investasi terbatas. Prinsip-prinsip dasar yang mengatur pengakuan keuntungan dan kerugian juga mengatur pengakuan keuntungan dan kerugian investasi terbatas. Keuntungan dan kerugian investasi terbatas bisa terdiri dari dua jenis, yaitu keuntungan dan kerugian yang diperoleh dari transfer resiprokal dan non-resiprokal dan estimasi keuntungan/kerugian yang belum bisa direalisir akibat revaluasi investasi terbatas, apabila hal itu bisa diterapkan.  pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah

B. Konsep Pengakuan Akuntansi

  1. Konsep Matching. Untung / rugi bersih selama jangka waktu tertentu harus ditentukan dengan mencocokkan pendapatan dan keuntungan dengan biaya-biaya dan kerugian yang berhubungan dengan periode atau jangka waktu tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengakuan akuntansi. Demikian juga, keuntungan netto atau kerugian netto investasi terbatas harus ditentukan dengan mencocokkan pendapatan dan keuntungan investasi terbatas dengan biaya dan kerugian investasi yang berhubungan dengan periode atau jangka waktu tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengakuan akuntansi. Konsep matching atau pencocokan didukung oleh konsep tanggung jawab biaya terhadap penerima manfaat.
  2. Sifat-sifat Pengukuran. Sifat pengukuran mengacu kepada sifat-sifat asset dan kewajiban yang harus diukur untuk tujuan akuntansi keuangan. Misalnya, sifat asset yang bisa dipilih untuk pengukuran di dalam akuntansi keuangan bisa mencakup biaya perolehan asset, net realizable value atau cash equivalent value dari asset pada tanggal tertentu , biaya penggantian asset pada tanggal tertentu atau sifat lain yang pengukurannya akan menghasilkan informasi yang relevan. Pilihan sifat yang harus diukur untuk tujuan akuntansi keuangan harus didasarkan pada relevansi, kehandalan, kemampuan untuk dipahami dan kemampuan untuk dibandingkan dari informasi yang dihasilkan yang diberikan kepada para pemakai laporan keuangan.
    Sifat-Sifat yang harus diukur: pengukuran dan pengakuan akuntansi syariah

    1. Nilai setara kas yang diharapkan atau diperkirakan diperoleh atau dibayarkan. Nilai setara kas yang diharapkan diperoleh adalah jumlah unit moneter yang akan diperoleh jika sebuah asset dijual tunai di dalam kegiatan bisnis secara normal pada tanggal sekarang. Nilai setara kas yang diharapkan akan dibayar adalah jumlah unit moneter yang diperlukan untuk melunasi kewajiban pada tanggal sekarang seperti kewajiban Salam atau Istisna’. Ketika semua syarat yang diharuskan untuk pengukuran sifat-sifat ini (relevansi, kehandalan dan kemampuan untuk dipahami dari informasi yang dihasilkan) terpenuhi, pengukuran sifat ini akan cocok untuk dijadikan dasar pengakuan akuntansi sebuah bank Islam dimana bank tersebut dapat bertindak sebagai:
      1. seorang investor dari dana-dana yang tersedia baginya dari pemilik modal dan pemilik rekening investasi tidak terbatas atas dasar akad Mudharabah tidak terbatas
      2. seorang manager investasi dari rekening investasi terbatas baik atas dasar Mudharabah terbatas
        maupun agency contract.
        Pada kedua kasus tersebut, informasi yang berasal dari pengukuran sifat ini terutama relevan bagi para pemilik rekening investasi tidak terbatas dan rekening investasi terbatas atau setaranya, baik pemilik sekarang maupun yang potensial. Para pemilik rekening investasi (terbatas atau tidak terbatas) dan sejenisnya memerlukan informasi untuk mengevaluasi kemungkinan bank untuk mencapai sasaran-sasaran investasi mereka. Disamping itu, para pemilik rekening investasi dan sejenisnya memerlukan informasi untuk mengevaluasi alternatif yang tersedia bagi mereka apabila mereka bisa merubah hubungan mereka dengan bank tersebut.
        Selain mempertimbangkan kedua hal di atas, pemilik rekening investasi pun perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti nilai setara kas yang diharapkan dapat diperoleh dari dana-dana yang telah dia berikan atau akan diberikan kepada bank untuk membiayai investasi terbatas atau investasi terbatas. Nilai yang diharapkan diperoleh oleh seorang pemilik rekening investasi dari dana-dananya adalah sangat tergantung pada nilai setara kas yang diharapkan dapat diperoleh dari investasi tersebut, apabila investasi dijual pada tanggal sekarang.
        Faktor penting lainnya yang memerlukan pengukuran sifat ini adalah alokasi yang adil dari hasil-hasil investasi terbatas antara para pemilik rekening investasi tidak terbatas yang telah menyediakan atau menarik dana pada berbagai titik waktu selama umur investasi tersebut, di satu sisi, dan antara para pemilik rekening tersebut sebagai suatu kelompok dan para pemilik bank Islam di sisi lain. Tidak seperti para pemilik bank Islam, para pemilik rekening investasi dan sejenisnya bisa menarik dana-dana mereka pada akhir akad mereka. Ini berarti bahwa jika investasi tidak terbatas ingin diukur pada biaya perolehannya (historis), akan timbul ketidak adilan di dalam pembagian hasil-hasil investasi antara para pemilik rekening investasi yang menyediakan atau menarik dana pada berbagai titik selama umur investasi itu. Demikian juga, akan timbul ketidak adilan di dalam pembagian hasil-hasil investasi tidak terbatas antara para pemilik rekening investasi tidak terbatas sebagai suatu kelompok dan para pemilik bank Islam.
        Pertimbangan ini juga relevan untuk para pemilik rekening investasi terbatas atau sejenisnya yang telah menyediakan atau menarik dana-dana pada berbagai titik selama umur investasi terbatas. Hasil-hasil dari investasi (laba dan rugi) tidak terjadi pada suatu titik tertentu. Namun demikian, hasil-hasil tersebut diperoleh selama umur investasi meskipun hasil akhir yang diperoleh belum pasti, sampai investasi tersebut diakhiri. Jika investasi terbatas ingin diukur pada biaya perolehannya sampai diakhiri, hasil-hasil investasi hanya dapat diakui selama periode tersebut, pada saat investasi tersebut diakhiri. Jika kasusnya seperti ini akan muncul ketidak adilan antara para pemilik rekening investasi terbatas yang telah menyediakan atau menarik dana pada berbagai titik waktu selama umur investasi tersebut.
    2. Revaluasi asset, kewajiban dan investasi terbatas pada akhir periode akuntansi. Pengukuran setara kas yang diharapkan akan diperoleh atau dibayar memerlukan revaluasi secara berkala terhadap asset, kewajiban dan investasi terbatas yang beredar (outstanding). Tetapi, informasi yang dihasilkan harus bisa dipercaya dan bisa dibandingkan. Untuk menjamin kehandalan dan kemampuan untuk dibandingkan, manajemen bank Islam wajib mematuhi semua prinsip-prinsip dasar berikut ini selama revaluasi asset, kewajiban dan investasi terbatas tersebut adalah sebagai berikut:
      1. Harus menggunakan indikator-indikator luar (seperti harga pasar), sejauh mana indikator-indikator tesebut tersedia
      2. Harus memanfaatkan semua informasi yang relevan apakah positif atau negatif.
      3. Harus menggunakan Metode penilaian yang logis dan relevan.
      4. Konsistensi dalam menggunakan metode penilaian
      5. Sejauh mana relevan, para pakar di dalam valuasi harus digunakan.
      6. Konservatisme di dalam proses penilaian dengan berpegang kepada objektivitas dan netralitas di
        dalam memilih nilai-nilai.
    3. Kemampuan asset, kewajiban dan investasi terbatas untuk direvaluasi. Meskipun revaluasi asset, kewajiban dan investasi terbatas itu relevan apabila investasi dibiayai oleh para pemilik rekening investasi, konsep ini tidak akan diadopsi saat ini. Hal ini disebabkan karena tidak adanya bukti bahwa sarana yang memadai sat ini tersedia untuk menerapkan konsep ini sesuai dengan cara yang mungkin akan menghasilkan informasi yang bisa diandalkan atau dipercaya. Namun demikian konsep boleh diterapkan dengan tujuan untuk menyajikan informasi tambahan yang mungkin relevan bagi pemilik rekening investasi yang ada atau seorang calon pemilik rekening investasi. Penyajian informasi tambahan tersebut tidak mewajibkan bank Islam untuk membagikan hasil-hasil investasi yang belum diperoleh. Pembagian hasil-hasil investasi dan sifat hasil-hasil yang akan dibagikan umumnya berdasarkan pada hubungan akad antara bank Islam dan pemilik rekening investasi dan hukum serta peraturan yang mengatur hubungan tersebut.
    4. Sifat pengukuran alternatif terhadap nilai setara kas (cash equivalent value). Biaya historis dari asset mengacu kepada nilai pasarnya pada tanggal perolehannya termasuk jumlah yang dikeluarkan untuk membuatnya bisa dipakai atau siap untuk digunakan. Nilai pasar pada tanggal perolehan mengacu kepada harga yang dibayar oleh bank Islam untuk membeli asset dalam suatu transaksi lugas (arm’s length transaction) antara pihak-pihak yang tidak berkaitan pada tanggal transfer. Biaya historis dari suatu kewajiban mengacu kepada jumlah yang diterima oleh bank Islam ketika kewajiban tersebut terjadi atau jumlah dimana kewajiban tersebut akan diselesaikan apabila dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X