Laporan Keuangan Bank Syariah (Bagian 1)

Laporan Keuangan Bank Syariah

Karakteristik bank syariah berbeda dengan bank non syariah, atau akuntansi umum, hal itu berdampak pada perbedaan pelaporan yang harus diterbitkan, sehingga laporan keuangan bank syariah meliputi :

  1. Laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan bank syariah sebagai investor beserta hak dan kewajibannya, yang dilaporkan dalam
    1. laporan posisi keuangan;
    2. laporan laba rugi;
    3. laporan arus kas; dan
    4. laporan perubahan ekuitas
  2. Laporan keuangan yang mencerminkan perubahan dalam investasi terikat yang dikelola oleh bank syariah untuk kemanfaatan pihak-pihak lain berdasarkan akad mudharabah atau agen investasi yang dilaporkan dalam laporan perubahan dana investasi terikat; dan
  3. Laporan keuangan yang mencerminkan peran bank syariah sebagai pemegang amanah dana kegiatan sosial yang dikelola secara terpisah, yang dilaporkan dalam:
    1. laporan sumber dan penggunaan dana zakat;
    2. laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan

Apabila diperbandingkan dengan laporan keuangan yang harus dibuat dalam bank konvensional, yang diatur dalam PSAK 31, adalah sebagai berikut:

Perbandingan Bank Konvensional dengan Bank Syariah
Perbandingan Bank Konvensional dengan Bank Syariah

Secara singkat dan garis besar, perlu dijelaskan hal-hal yang terkait dengan laporan keuangan tersebut sebagai berikut :

A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Dalam unsur aktiva neraca Bank Syariah, beberapa hal yang berbeda dengan unsur neraca Bank konvensional yang perlu dijelaskan, Dalam bank konvensional penyaluran dana hanya dicabut dalam perkiraan “kredit” atau “pinjaman yang diberikan”, hal ini sangat berbeda dengan Bank Syariah dimana dalam penyaluran dana dicabut dalam perkiraan yang sesuai dengan prinsip penyalurannya yaitu (a) prinsip jual beli dibukukan pada perkiraan “piutang”, seperti piutang murabahah, piutang istishna, piutang salam (b) prinsip bagi hasil ditampung dalam perkiraan “investasi”, seperti pembiayaan mudharabah, dan pembiayaan musyarakah, (c) prinsip ijarah dicatat dalam perkiraan “aktiva ijarah”. Perkiraan-perkiraan yang mempunyai karakteristik tertentu dalam laporan keuangan perbankan syariah dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Aktiva
    Beberapa perkiraan dalam aktiva yang perlu dijelaskan antara lain:

    1. Piutang Dagang.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan penyaluran dana yang mempergunakan prinsip jual beli seperti murabahah, istishna dan salam, sehingga dalam bank syariah “piutang”, seperti piutang murabahah, piutang istishna, piutang salam dapat dikategorikan sebagai aktiva yang produkif, aktiva yang diharapkan menghasilkan pendapatan. Hal ini sangat berbeda dengan bank konvensional, dimana perkiraan piutang merupakan unsur neraca yang tidak dominan, karena biasanya hanya dipergunakan untuk menampung tagihan kepada pihak ketiga nasabah.
    2. Investasi.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan penyaluran dana yang mempergunakan prinsip bagi hasil, yaitu pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah. Oleh karena itu apabila pembiayaan dipersamakan dengan “kredit” yang selama ini ada pada neraca bank konvensional, maka pembaca laporan hanya menemukan sebagian saja dari penyaluran pada bank syariah, karena yang tertampung pada perkiraan ini hanya penyaluran yang mempergunakan prinsip bagi hasil, yaitu hanya pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah, sedangkan masih ada penyaluran lain yang mempergunakan prinsip jual beli.
    3. Persediaan / Assets.
      Dalam bank konvensional perkiraan ini tidak mungkin ada, dalam akuntansi umum perkiraan ini terdapat pada perdagangan atau industri, tetapi dalam Bank Syariah perkiraan ini dipergunakan untuk menampung barang-barang milik Bank syariah yang dimaksudkan untuk dijual kembali, seperti persediaan/assets murabahah, persediaan /asset salam, persediaan / assets istishna.
    4. Aktiva Ijarah.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan assets Ijarah yang telah disewakan, dimana asset ijarah yang telah disewakan harus dipisahkan dengan aktiva tetap milik bank dan persediaan. Dalam akuntansi Ijarah yang dianut hanyalah “sewa operasional – operating leasse”, sehingga asset yang disewakan masih menjadi milik dan tanggung jawab bank, termasuk pemeliharaannya.
    5. Aktiva istishna dalam penyelesaian (Istishna Work in Proses).
      Perkiraan ini dipergunakan untuk menampung transaksi istishna yang sedang berjalan proses penyelesaiannya. Untuk barang istishna yang telah selesai tetapi belum diserahkan ditampung dalam perkiraan Persediaan Istishna
    6. Penyaluran Dana Investasi Terikat Executing.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan penyaluran mudharabah muqayyadah (Investasi Terikat) dengan pola penyaluran Executing. Penyaluran Mudharabah Muqayyadah dengan pola penyaluran Chanelling dilaporkan dalam “Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat”
    7. Pinjaman Qardh.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan pinjaman qardh yang sumber dananya dari intern bank syariah. Pinjaman Qardh yang sumber dananya dari ekstern dilaporkan dalam “Laporan Sumber dan Penggunaan Al-Qardhul Hasan”
    8. Penyertaan.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan penyertaan, dimana bank syariah memiliki saham suatu perusahaan, baik yang dilakukan dalam rangka penyelamatan pembiayaan atau yang ditanamkan pada anak perusahaan. Hal ini tidak dibukukan pada musyarakah (walaupun secara prinsip syariah – dapat dikategorikan sama), karena untuk membedakan penyaluran dana untuk kepentingan produktif
  2. Kewajiban
    Perkiraan yang berbeda pada kewajiban dalam neraca Bank Syariah dapat dijelaskan sebagai berikut :

    1. Simpanan / Titipan.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan penghimpunan dana yang mempergunakan prinsip wadiah (titipan), karena prinsip dari wadiah adalah titipan yang harus dikembalikan kapan saja oleh bank apabila si penitip meminta kembali, dalam kondisi apapun bank syariah harus mengembalikan dana titipan tersebut kepada penitip, bank syariah harus mengembalikan dana titipan tersebut seratus persen kepada penitip. Jadi yang dibukukan pada kewajiban bank syariah adalah Tabungan Wadiah, Giro Wadiah. Hal ini sangat berbeda dengan neraca bank konvensional tabungan dan deposito dibukukan pada unsur kewajiban bank konvensional.
    2. Kewajiban Investasi Terikat Executing.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan Penerimaan Mudharabah Muqayyadah dengan pola penyaluran Executing. Penerimaan Mudharabah Muqayyadah yang pola Chanelling yang belum disalurkan oleh bank syariah dibukukan dalam titipan kelompok kewajiban
    3. Keuntungan Diumumkan Belum Dibagikan.
      Perkiraan ini dipergunakan untuk membukukan bagi hasil hak pemilik dana Investasi Tidak Terikat yang dihimpun, yang sampai dengan tanggal laporan belum dibayarkan kepada pemiliknya dan data yang dipergunakan dalam perkiraan ini bersumber dari perhitungan pembagian hasil usaha.
  3. Dana Syirkah Temporer
    Transaksi yang dibukukan pada Dana Syirkah Temporer, adalah penghimpunan dana pada bank syariah yang mempergunakan prinsip mudharabah mutlaqah. Dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah disebut dengan Investasi Tidak Terikat, oleh karena kelompok ini berada pada sisi pasiva neraca bank syariah dan mempergunakan kata-kata “investasi” yang umumnya berada pada sisi aktiva neraca bank, maka istislah Investasi Tidak terikat diganti dengan Dana Syirkah Temporer (DST). Dana Syirkah Temporer ini tidak dapat dikategorikan pada kewajiban maupun sebagai ekuitas pada bank syariah. Sesuai dengan prinsip mudharabah apabila terjadi kerugian yang bukan kelalaian mudharib, maka kerugian tersebut menjadi tanggungan pemilik dana (shahibul maal), dengan kata lain dana yang diterima tersebut, secara konsep tidak harus dikembalikan seluruhnya (dapat dikurangi kerugian – jika ada).
Neraca Bank Syariah
Neraca Bank Syariah

 

 

B. Laporan Laba Rugi

Beberapa unsur laporan laba rugi yang ada dalam laporan laba rugi bank syariah adalah:

  1. Pendapatan Operasi Utama.
    Unsur ini merupakan kelompok pendapatan operasi utama bank syariah atas penyaluran yang dilakukan sesuai prinsip syariah, yang meliputi (a) pendapatan penyaluran yang mempergunakan prinsip bagi hasil, yaitu
    pendapatan bagi hasil mudharabah dan pendapatan bagi hasil musyarakah, (b) pendapatan penyaluran yang mempergunakan prinsip jual beli, yaitu pendapatan margin murabahah, pendapatan bersih salam paralel, dan pendapatan bersih istishna paralel dan (c) pendapatan bersih ijarah Pendapatan operasi utama ini dipisahkan supaya dapat memberikan informasi kepada pemakai laporan keuangan, atas pendapatan utama operasional bank syariah dan akan dikaitkan dengan bagi hasil yang telah diberikan oleh bank syariah
  2. Hak pihak ketiga atas bagi hasil Dana Syirkah Temporer.
    Unsur ini merupakan jumlah bagi hasil yang diberikan oleh bank syariah kepada pemilik dana, sesuai nisbah yang disepakati. Hak pihak ketiga atas bagi hasil Dana Syirkah Temporer ini tidak dapat dikategorikan sebagai pendapatan dan beban dari bank syariah. Hak pihak ketiga atas bagi hasil Dana Syirkah Temporer ini merupakan alokasi pendapatan dari Bank Syariah. Tidak diketegorikan sebagai beban bank syariah karena besarnya sangat tergantung pada pendapatan operasi utama bank syariah, besarnya sebanding dengan pendapatan operasi utama, besarnya tidak tetap.
  3. Pendapatan operasi lainnya. Unsur ini untuk menampung pendapatan operasi utama lainnya, yang merupakan milik bank syariah sepenuhnya (tidak dibagihasilkan), seperti pendapatan atas fee mudharabah muqayyadah, fee wakalah, fee kafalah dan pendapatan atas layanan berdasarkan imbalan lainnya
  4. Beban-beban. Beban-beban ini adalah semua beban yang menjadi tanggungan bank sebagai mudharib sebagaimana layaknya bank, seperti beban tenaga kerja, beban umum dan administrasi dan beban operasi lainnya.

Sangat disadari bahwa Laporan Laba Rugi Bank Syariah yang mempergunakan metode bagi hasil “Revenue Sharing” berbeda dengan yang mempergunakan metode “Profit Sharing” Apabila bank mempergunakan metode Profit Sharing, selain membuat laporan laba rugi bank sebagai mudharib sendiri, bank juga harus membuat laporan laba rugi atas pengelolaan dana mudharabah yang terpisah dengan laporan laba rugi bank, karena laporan laba rugi pengelolaan dana mudharabah inilah yang akan dipergunakan sebagai dasar pembagian bagi hasil dengan pemilik dana dan dalam hal pengelolaan dana tersebut mengalami kerugian dan bukan kesalahan mudharib, sesuai dengan prinsipnya kerugian tersebut akan menjadi tanggungan pemilik dana. Yang perlu mendapat perhatian dalam membuat laporan laba rugi pengelolaan dana mudharabah, khususnya yang berkaitan dengan beban, harus ada kriteria yang jelas tentang beban yang menjadi tanggungan dana mudharabah, baik beban tenaga kerjanya, beban umum dan administrasi maupun beban operasi lainnya, tidak diperkenankan beban yang menjadi tanggungan bank dibebankan pada laba rugi pengelolaan dana mudharabah.

Laporan Laba Rugi Bank Syariah
Laporan Laba Rugi Bank Syariah

C. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas disajikan sesuai dng PSAK 2: Lap Arus Kas.

D. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas disajikan sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan.

E. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat

Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat ini memuat laporan dari Mudharabah Muqayyadah (Investasi Terikat) dengan pola penyaluran Chanelling. Untuk Investasi terikat dengan pola penyaluran Executing dilaporkan dalam Neraca (on balance sheet) Laporan ini merupakan pertanggungan jawab bank sebagai agent dalam mudharabah muqayyadah Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat ini dibuat oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai laporan dalam menjalankan amanah dalam menjalankan pengelolaan dana. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat al:

  1. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat memisahkan dana investasi terikat berdasarkan sumber dana dan memisahkan investasi berdasarkan jenisnya.
  2. Bank syariah menyajikan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:
    1. saldo awal dana investasi terikat;
    2. jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi dan nilai per kelompok pada awal periode;
    3. dana investasi yang diterima dan kelompok investasi yang diterbitkan bank syariah selama periode laporan;
    4. penarikan atau pembelian kembali kelompok investasi selama periode laporan;
    5. keuntungan atau kerugian dana investasi terikat;
    6. imbalan bank syariah sebagai agen investasi;
    7. beban administrasi dan beban tidak langsung lainnya yang dialokasikan oleh bank syariah ke dana investasi terikat;
    8. saldo akhir dana investasi terikat; dan
    9. jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi dan nilai per kelompok pada akhir periode.
  3. Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik dana investasi terikat dan sejenisnya yang dikelola oleh bank syariah sebagai agen investasi. Investasi terikat bukan merupakan aset maupun kewajiban karena bank syariah tidak mempunyai hak untuk menggunakan atau mengeluarkan investasi tersebut, serta bank syariah tidak memiliki kewajiban mengembalikan atau menanggung risiko investasi.
  4. Dana yang diserahkan oleh pemilik investasi terikat dan sejenisnya adalah dana yang diterima bank syariah sebagai agen investasi. Dana yang ditarik oleh pemilik dana investasi terikat adalah dana yang diambil atau dipindahkan sesuai dengan permintaan pemilik dana.
  5. Keuntungan atau kerugian investasi terikat adalah jumlah kenaikan atau penurunan bersih nilai investasi terikat, selain kenaikan yang berasal dari penyetoran atau penurunan yang berasal dari penarikan.
  6. Dalam hal bank syariah bertindak sebagai agen investasi, imbalan yang diterima adalah sebesar jumlah yang disepakati tanpa memperhatikan hasil investasi.
  7. Catatan atas Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat harus mengungkapkan:
    1. sifat hubungan antara entitas syariah dan pemilik dana investasi terikat;
    2. hak dan kewajiban yang terkait dengan setiap jenis dana investasi terikat atau unit investasi.
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Bank Syariah
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Bank Syariah

F. Laporan Sumber Dan Penggunaan Dana Zakat

Dalam PSAK 59 laporan ini disebut dengan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah). Oleh karena terdapat ketidak jelasan penggunaan Infaq dan Shadaqah yang dapat dipergunakan untuk hal-hal diluar dari zakat, disamping zakat sumber dan penggunaannya telah diatur dengan jelas dan syariah, maka laporan tersebut disempurnakan dengan “Laporan Sumber dan Pengunaan Zakat” yaitu suatu laporan yang khusus untuk penerimaan dan penyaluran zakat sesuai ketentuan syariah yang ada, sedangkan laporan sumber dan penggunaan dana infaq dan shadaqah digabung dengan dalaml laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan. Dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan (prgf 64 – 68) bahwa entitas syariah menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:

  1. dana zakat berasal dari wajib zakat (muzakki):
    1. zakat dari dalam entitas syariah;
    2. zakat dari pihak luar entitas syariah;
  2. penggunaan dana zakat melalui lembaga amil zakat untuk:
    1. fakir;
    2. miskin;
    3. riqab;
    4. orang yang terlilit hutang (gharim);
    5. muallaf;
    6. fiisabilillah;
    7. orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan
    8. amil;
  3. kenaikan atau penurunan dana zakat;
  4. saldo awal dana zakat; dan
  5. saldo akhir dana zakat.

Zakat adalah sebagian dari harta yang wajib dikeluarkan oleh wajib zakat (muzakki) untuk diserahkan kepada penerima zakat (mustahiq). Pembayaran zakat dilakukan apabila nisab dan haulnya terpenuhi dari harta yang memenuhi kriteria wajib zakat. Unsur dasar Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat meliputi sumber dana, penggunaan dana selama suatu jangka waktu, serta saldo dana zakat yang menunjukkan dana zakat yang belum disalurkan pada tanggal tertentu. Dana zakat tidak diperkenankan untuk menutup penyisihan kerugian aset produktif. Entitas syariah harus mengungkapkan dalam catatan atas Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, tetapi tidak terbatas pada:

  1. sumber dana zakat yang berasal dari internal entitas syariah;
  2. sumber dana zakat yang berasal dari eksternal entitas syariah;
  3. kebijakan penyaluran zakat terhadap masing-masing asnaf;dan
  4. proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima zakat diklasifikasikan atas pihak terkait, sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa, dan pihak ketiga.
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Bank Syariah
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Bank Syariah

G. Laporan Sumber Dan Penggunaan Dana Kebajikan

Dalam PSAK 59 laporan ini disebut dengan Laporan Sumber dan Penggunaan Al Qardhul Hasan. Oleh karena tidak ada perbedaan arti antara Al Qardh dengan Al Qardhul Hasan dan tidak ditemukan pengertian yang baku dari Al Qardhul Hasan, maka laporan ini disempurnakan dengan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan.Dalam PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah dijelaskan (prgf 69 -73) bahwa entitas syariah menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:

  1. sumber dana kebajikan berasal dari penerimaan:
    1. infak;
    2. sedekah;
    3. hasil pengelolaan wakaf sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku;
    4. pengembalian dana kebajikan produktif;
    5. denda; dan
    6. pendapatan nonhalal.
  2. penggunaan dana kebajikan untuk:
    1. dana kebajikan produktif;
    2. sumbangan; dan
    3. penggunaan lainnya untuk kepentingan umum.
  3. kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan;
  4. saldo awal dana penggunaan dana kebajikan; dan
  5. saldo akhir dana penggunaan dana kebajikan.

Unsur dasar laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan meliputi sumber dan penggunaan dana selama jangka waktu tertentu, serta saldo dana kebajikan yang menunjukkan dana kebajikan yang belum disalurkan pada tanggal tertentu. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan atas Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan, tetapi tidak terbatas, pada:

  1. sumber dana kebajikan;
  2. kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-masing penerima;dan
  3. proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima dana kebajikan diklasifikasikan atas pihak terkait, sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa, dan pihak ketiga.
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan Bank Syariah
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan Bank Syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X