Proses Siklus Akuntansi Bank Syariah

Proses Siklus Akuntansi Bank Syariah

Proses siklus akuntansi bank syariah, mulai bukti transaksi sampai dengan laporan keuangan sama dengan proses / siklus akuntansi umum, ( Harahap, 1999, hal 9) yaitu:

proses Siklus Akuntansi Bank Syariah

Dalam praktek, terutama apabila bank syariah dalam penataan akuntansinya telah mempergunakan komputer, alurnya dimulai dari bukti transaksi yang merupakan input dengan mempergunakan kode debet dan kode kredit, kemudian setelah transaksi dalam hari tersebut selesai, beberapa kegiatan proses akuntansi ditangani oleh komputer sebagai proses yaitu jurnal, pembukuan dalam buku besar sampai dengan Neraca pecobaan atau neraca saldo, dan akhirnya pada setiap akhir tanggal transaksi diterbitkan seperangkat laporan keuangan bank syariah yang merupakan output. Apabila bank syariah telah mempergunakan komputer dalam penataan akuntansinya, yang diketahui oleh pada pelaksana hanya kode transaksi debet dan kode transaksi kredit, bahkan terdapat beberapa transaksi yang jurnalnya dilakukan secara otomasi oleh komputer, dan akhirnya pelaksana hanya mengetahui cetakan seperangkat laporan keuangan. Proses atau siklus akuntansi yang penataan akuntansinya dilakukan komputer dapat digambarkan sebagai berikut:

proses Siklus Akuntansi bank Syariah

Jurnal penyesuaian, jurnal penutup dan jurnal koreksi (jika diperlukan) dilakukan pada hari kerja berikutnya atau dilakukan oleh kantor akuntan yang melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan tersebut

Cakupan Akuntansi Bank Syariah

Dalam PSAK 59 tentang akutansi perbankan syariah hanya dibahas ketentuan-ketentuan akuntansi, seperti pengukuran, pengakuan, pengungkapan maupun penyajian transaksi yang dilaksanakan oleh bank syariah, baik bank umum syariah, BPR syariah maupun cabang syariah dari bank konvensional. Jadi titik pandang akuntansi dalam PSAK 59 tentang akuntansi perbankan syariah hanya untuk bank Dengan adanya perkembangan Lembaga Keuangan Syariah, maka menuntut adanya perubahan akuntansi syariah yang tidak hanya dilaksanakan oleh bank syariah saja tetapi seluruh entitas yang melaksanakan transaksi syariah, sehingga PSAK 59 tentang akuntansi perbankan syariah direvisi menjadi PSAK 101 dan seterusnya. PSAK syariah yang baru telah dibahas secara lengkap baik dari Lembaga Keuangan Syariah maupun akuntansi pihak-pihak terkait dengan Lembaga Keuangan Syariah tersebut.

Oleh karena buku ini berjudul Akuntansi Perbankan Syariah, maka dengan adanya perubahan PSAK tersebut yang dicermati adalah ketentuan-ketentuan akuntansi untuk transaksi yang dilaksanakan oleh bank syariah. Dalam buku ini tidak dibahas akuntansi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dengan Lembaga Keuangan Syariah. Mengingat bahwa PSAK syariah yang baru belum dapat mendukung seluruh transaksi yang dilaksanakan oleh bank syariah, maka perlu bertimbangan berikut:

  1. Apabila hal-hal umum yang tidak diatur dapat mengacu pada PSAK dan atau prinsip akuntansi yang berlaku umum sepanjang tidak bertentang dengan syariah. Untuk dapat mengetahui hal tersebut bertentangan atau tidak dengan syariah harus diperhatikan Fatwa Dewan Syariah Nasional dari transaksi yang bersangkutan. Misalnya, transaksi tentang Letter of Credit belum diatur dalam PSAK syariah yang baru, untuk membukukan transaksi tersebut dapat mempergunakan acuan PSAK 31 tentang Akuntansi Perbankan tetapi harus diperhatikan Fatwa DSN tentang LC yaitu fatwa nomor 34/DSN-MUI/IX/2002 tentang LC Impor Syariah, fatwa nomor 35/DSN-MUI/IX/2002 tentang LC Ekspor Syariah.
  2. Bukan pengaturan penyajian laporan keuangan permintaan khusus (statutory) pemerintah, lembaga pengawasan independen dan bank sentral (Bank Indonesia). Loporan Bulanan Bank Syariah diatur tersendiri oleh Bank Indonesia. proses siklus akuntansi bank syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X